468x60_id

Waria Jawa Timur

'Kami juga bisa melakukan pekerjaan apa saja seperti manusia normal pada umumnya. Para waria ingin merubah pandangan negatif masyarakat dengan berbagai kegiatan yang positif dan berprestasi.

Anda Bertanya LGBT Menjawab

Sebuah page tanya-jawab bagi kaum LGBT/Non-LGBT seputar isu gender, seksualitas dan secara spesifik LGBT. Harap untuk tetap sopan dan tidak ada makian atau penyerangan personal. Terima kasih dan selamat bertanya.

In pictures: Indonesia's waria

They wriggle their way through the stalls, rattling home-made instruments and singing songs. The essentials for turning a healthy profit: skimpy clothes, lots of lipstick and a big dollop of attitude.

‘Remaja Gay’ dan ‘Waria Muda’ Rentan Tertular HIV

Menakut-nakuti remaja putra terkait dengan kehamilan pada pacarnya ternyata berujung ’buruk’. Pada masa dorongan hasrat seksual sedang menggebu-gebu mereka terperangkap dalam ketakutan.

Waria Kini Diakui di Paspor Australia, Ada Pilihan Jenis Kelamin untuk Kaum 'Waria'

Kejutan dari pemerintah Australia. Kini di paspor yang dikeluarkan negara Kangguru itu ada tiga pilihan gender, yaitu laki-laki, perempuan, dan 'belum ditentukan'.

Tampilkan postingan dengan label Telling Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telling Story. Tampilkan semua postingan

Komunitas Waria Dukung Jokowi Jadi Presiden

 
Jakarta - Komunitas waria pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendeklarasikan dukungannya bersama kaum marjinal lainnya. Mereka ingin Jokowi memperhatikan nasib mereka jika kelak terpilih.

"Kita harapkan jika Jokowi terpilih untuk memperhatikan kaum marjinal seperti kita," kata Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Mami Yulie, di lokasi deklarasi di Jl Prapanca Raya no 28, Jakarta Selatan, Sabtu (21/6/2014).

"Ya pemenuhan hak dasar seperti bekerja, mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan. Selain itu juga pengen ada perlindungan hukum yang jelas," sambungnya.

Yulie menyatakan dukungan ke Jokowi karena dia menilai Gubernur DKI non aktif itu sederhana dan merakyat. Dia berharap jika terpilih Jokowi untuk tetap seperti itu dan memperhatikan mereka.

Selain kelompok waria, deklarasi itu juga diikuti kelompok orang-orang dengan ukuran tubuh mini dan juga orang-orang buta. Mereka tergabung dalam kelompok Rakyat Merah Putih (RMP).

"Ada 3 deklarasi, kami berharap Jokowi memperhatikan nasib orang-orang terpinggirkan jika nanti terpilih," tandasnya.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

Pesantren waria berusaha untuk bertahan

Sejak tahun 2008 lalu sebuah pesantren untuk kelompok waria berdiri di kota Yogyakarta.
Berbeda dengan pesantren pada umumnya, pesantren waria tidak mengharuskan anggota peserta didiknya untuk tinggal di pesantren yang terletak di Notoyudan, Yogyakarta. 

Kegaiatannya juga berlangsung hanya setiap Minggu sore hingga tengah malam.
Pendiri pesantren ini, Maryani mengatakan awalnya mereka melakukan kegiatan setiap hari Senin dan Kamis namun akibat kesibukan anggotanya kini kegiatan mereka hanya dilakukukan setiap satu kali dalam sepekan.
Maryani menceritakan salah satu alasan pendirian pesantren ini adalah menyediakan tempat untuk belajar beribadah bagi kelompok waria.
"Waria ini kan juga manusia dan perlu beribadah oleh karena itu saya dulu dengan Kyai Amrori Harun membuka pesantren khusus untuk waria, kalau di pesantren lain kan tidak boleh waria berada di sana," kata Maryani kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.
Maryani bersyukur sejak berdiri empat tahun silam dia dan teman-temannya tidak pernah mengalami tekanan dan tindakan kekerasan yang menghalangi kegiatannya.
"Tidak ada tekanan sama sekali meskipun ada sebagian yang mengatakan kami haram namun saya tidak peduli, diterima tidaknya ibadah saya itu hanya Allah yang tahu"
Menurut Maryani jumlah anggota pesantrennya memang turun naik, saat ini ada sekitar 25 waria yang aktif mengikuti kegiatan di pesantren ini.
"Saya mengajak teman-teman yang belum berani masuk saya tidak bisa memaksa kalau mau datang ya oke kalau tidak ya tidak apa-apa."

Membuat tenang

Sejumlah waria yang terlibat dalam kegiatan di pesantren waria punya beragam pendapat soal manfaat kegiatan di tempat tersebut.
Maryani
Maryani berharap pesantren waria bisa menjadi tempat belajar agama bagi kelompok waria.
Santi salah satu waria yang terlibat dalam kegiatan di pesantren ini sejak empat tahun lalu mengatakan dia kini merasa kehidupan rohaninya lebih baik
"Secara pribadi saya merasa lebih tenang saya juga bisa menerangkan kepada rekan waria lain kalau waria itu merupakan anugerah Tuhan dan bukan karena kita memiliki kelainan," kata Sinta.
"Di sini saya juga belajar soal ayat dan terjemahan serta tafsirnya yang menyangkut keberadaan waria dan transgender."
Sinta menjelaskan keberadaan mereka juga banyak diapresiasi oleh sejumlah tokoh agama Islam di kota Yogyakarta.
"Meski secara kelembagaan mereka memang tidak mengakui keberadaan pesantren ini tapi secara personal mereka mendukung kami."

Dukungan tokoh agama

Majelis Ulama Indonesia cabang Yogyakarta juga mengatakan sejak awal berdirinya pesanteren tersebut mereka tidak pernah mempermasalahkannya.
"Itu usaha yang baik untuk memberikan pengajaran agama kepada mereka kalau tidak ada pesantren itu kan mereka tidak akan belajar agama dan mengetahui kedudukan mereka dalam agama oleh karena itu MUI menyetujui keberadaan mereka," kata Ketua MUI Yogyakarta, Thoha Abdurrahman.
"Harapan saya mereka bisa tahu benar soal Islam baik menyeluruh maupun untuk mereka."
"Itu usaha yang baik untuk memberikan pengajaran agama kepada mereka kalau tidak ada pesantren itu kan mereka tidak akan belajar agama"
Thoha Abdurrahman
Thoha mengatakan di mata Islam mereka juga punya hak yang sama untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
"Sejauh ini memang tidak ada aksi pelarangan dari ormas manapun terhadap kegiatan mereka di sini," jelasnya.
Meski mendapat dukungan cukup bagus dari masyarakat, namun Maryani menolak untuk mendirikan pesantren dengan konsep serupa di luar Yogyakarta.
"Saya pernah ditawari untuk mendirikan pesantren ini di sebuah daerah tapi saya tidak mau karena reaksi masyarakat di daerah itu belum tentu sama dengan di Yogyakarta."
Dia juga mengatakan untuk mempertahankan pesantren ini bukanlah perkara mudah sejumlah kendala seperti biaya dan konsistensi para anggotanya untuk terlibat dalam kegiatan di pesantren ini adalah beberapa diantaranya.
Sejumlah waria berharap mereka bisa mendapatkan perlindungan sama dengan warga lainnya termasuk dalam hal beribadah.

Kisah Hidup Pengasuh Waria Barack Obama

Oleh Yahoo! News 
Pada suatu masa, Evie pernah merawat "Barry" Obama, anak yang kemudian tumbuh menjadi pria paling berkuasa di dunia. Kini pengasuh transgender Obama tersebut hidup ketakutan di jalanan. Ia sudah membuang gaun bunga-bunganya, rompi brokat, dan pakaian dalam perempuan yang pernah ia miliki.


Evie lahir sebagai seorang pria, tapi percaya sebenarnya ia adalah seorang perempuan. Seumur hidupnya, Evie harus menanggung hinaan dan pukulan karena identitasnya tersebut. Dalam laporan khusus Associated Press, ia bercerita, seorang tentara pernah mencukur habis rambutnya yang panjang dan hitam serta menyundut rokok ke lengannya.

Saat ia melihat jenazah bengkak rekannya yang waria mengambang di kanal pembuangan air dua dekade lalu, Evie langsung mengambil semua pakaian wanitanya dan menyimpannya di dua kardus besar. Lipstik-lipstik bekasnya, bedak, serta pemulas mata ia berikan ke orang.

"Saya tahu di dalam hati saya seorang perempuan, tapi saya tidak mau mati seperti [rekan saya] itu," kata Evie, kini 66, dengan bibir sedikit gemetar. "Jadi saya terima saja...Saya kini hidup seperti ini, sebagai seorang pria, semenjak kejadian itu."

Sikap Indonesia terhadap kaum waria sangat rumit.

Tidak ada yang tahu pasti berapa banyak waria yang tinggal tersebar di Indonesia, tapi para aktivis memperkirakan ada 7 juta waria hidup di Indonesia. 

Waria di Indonesia sering mengadakan kontes kecantikan, bekerja sebagai penyanyi, atau di salon kecantikan, kadang bahkan menjadi pemandu acara bincang-bincang di televisi seperti Dorce Gamalama.

Meski begitu, ada kebencian sosial yang mendalam terhadap waria. Saat karakter waria muncul di komedi televisi, mereka menjadi bulan-bulanan. Mereka agak bersembunyi di masyarakat setelah muncul berbagai serangan oleh kelompok muslim garis keras. 

Majelis Ulama Indonesia pun sudah mengeluarkan fatwa bahwa para waria harus menjalani hidup sesuai dengan jenis kelamin saat mereka dilahirkan, karena tiap jenis kelamin memiliki kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu reproduksi.

"Mereka harus menerima jenis kelamin mereka," kata Ichwan Syam, seorang ulama MUI.

"Jika mereka tidak mau menyembuhkan diri secara medis atau religius, mereka harus menerima nasib untuk dihina dan dilecehkan."

Banyak waria beralih menjadi pekerja seks komersial karena pekerjaan sangat sulit dicari, dan mereka tetap ingin hidup sesuai gender mereka yang sebenarnya. Saat melakukan pekerjaan tersebut, mereka berisiko terkena AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

Seperti Evie, banyak waria lain yang memutuskan bahwa lebih baik untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya. Ada juga yang melawan balik. Bulan lalu, waria berusia 50 tahun melamar untuk jadi salah satu anggota komisioner di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. 

Kilatan kamera paparazzi muncul saat Yuli Retoblaut keluar dari mobil minivan mewah pinjaman berwarna hitam. "Saya terlalu jelek untuk jadi PSK, tapi saya bisa menjadi pengawal mereka," kata Yuli, tertawa.

Ancaman kekerasan di Indonesia terhadap waria sangatlah nyata: Komnas HAM mencatat ada 1000 laporan penyiksaan per tahun, dari pembunuhan sampai pemerkosaan sampai gangguan pada aktivitas organisasi mereka. Di seluruh dunia, setidaknya satu orang dibunuh per hari, menurut data Trans Murder Monitoring Project yang mengumpulkan laporan pembunuhan.

Evie memilih namanya karena menurut dia nama itu terdengar manis. Tapi, dia lalu mengeluarkan KTP-nya dan menunjukkan nama aslinya, Turdi, dan jenis kelaminnya di KTP yang tertera sebagai laki-laki. 

Beberapa orang yang sudah lama tinggal di kawasan Menteng tempat Obama tinggal membenarkan, bahwa Turdi bekerja di sana selama dua tahun. Turdi juga merawat adik Obama, Maya, yang saat itu masih bayi. Saat ditanya tentang si pengasuh, Gedung Putih tidak mau mengeluarkan komentar.

Evie kini tinggal di sebuah gubuk sempit, di permukiman kumuh di timur Jakarta. Sehari-harinya ia menjadi buruh cuci, mengumpulkan pakaian dan mencuci baju kotor, untuk makan sehari-hari. Ia memakai jins biru berpotongan baggy dan kaus putih mengiklankan resor pantai yang tenang dan indah, sebuah tempat jauh yang tak pernah ia kunjungi. 

Evie berbicara perlahan, sopan, dan ada kerutan khawatir di dahinya.

Saat masih kecil, Evie sering dipukuli oleh ayahnya yang benci punya anak seorang "banci". "Dia ingin saya bertindak seperti anak laki-laki, tapi saya tidak merasa sebagai laki-laki," kata dia.

Setelah dihina dan disiksa, ia keluar dari sekolah setelah kelas tiga SD dan mulai belajar memasak.

Ternyata Evie sangat mahir memasak, ia pun bekerja di dapur di beberapa pejabat saat remaja. Ia mengingat masa-masa itu sambil tersenyum. Dan pada sebuah pesta perjamuan pada 1969, Evie bertemu dengan Ann Dunham, ibu Barack Obama, yang tiba dua tahun lalu di Indonesia setelah menikahi seorang pria Indonesia, Lolo Soetoro.

Dunham sangat terkesan dengan bistik dan nasi goreng buatan Evie. Ibu Obama pun akhirnya menawarkan pekerjaan buat Evie. Tak lama kemudian, Evie pun menjadi perawat Barry yang saat itu berusia 8 tahun, menjadi teman bermain, sekaligus menjemput dari dan mengantar ke sekolah.

Para tetangga ingat bahwa mereka sering melihat Evie keluar rumah pada malam hari mengenakan gaun lengkap dan riasan wajah. Namun, kata Evie, dia ragu Barry mengetahui hal itu.

"Dia masih sangat muda," kata Evie. "Dan saya tidak pernah mengizinkan dia melihat saya dengan pakaian perempuan. Tapi dia pernah melihat saya mencoba lipstik ibunya, kadang-kadang. Dia selalu tertawa senang melihatnya."

Saat keluarga tersebut pindah dari Indonesia pada awal 1970an, keadaan mulai memburuk buat Evie. Ia tinggal bersama seorang pacar. Namun, hubungan itu kandas tiga tahun kemudian, Evie pun menjadi pekerja seks.

"Saya berusaha bekerja sebagai pembantu, tapi tidak ada yang mau mempekerjakan saya," kata Evie. "Saya butuh uang untuk membeli makanan, tempat tinggal."

Evie harus kucing-kucingan dengan penjaga keamanan dan — karena saat itu Indonesia di bawah kekuasaan Soeharto — dengan tentara. Mereka sering mengumpulkan "banci", menaikkan mereka ke truk, dan mengangkutnya ke lapangan, tempat para waria ini ditendang, dipukuli, disiksa, dan dilecehkan.

Pada 1985, semuanya berubah. Ia dan teman-temannya kocar-kacir di antara gang-gang gelap untuk menyelamatkan diri dari tongkat pukul. Seorang waria yang sangat cantik, Susi, lompat ke kanal air penuh sampah.

Setelah keadaan tenang, mereka yang kabur kembali ke tempat semula, mencari Susi.

"Kami mencari semalaman," kata Evie, yang sampai sekarang masih dihantui oleh wajah temannya itu. "Akhirnya...kami menemukan dia. Keadaannya sangat mengenaskan. Tubuhnya bengkak, mukanya hancur."

Kini Evie mencari ketenangan lewat agama, ia rutin pergi ke masjid untuk salat lima kali sehari. Menurut Evie, dia hanya menunggu mati. "Saya tidak punya masa depan lagi."

Evie mengaku tidak tahu bahwa Barry yang pernah ia besarkan kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat pada 2008. Sampai kemudian Evie melihat foto keluarga yang pernah menjadi majikannya di koran dan TV lokal. Ia mengaku kenal dengan mereka.

"Saya tidak percaya," kata dia, lalu tersenyum lebar.

Kawan-kawannya awalnya tertawa dan berpikir Evie sudah gila, tapi mereka yang tinggal di kawasan Menteng Dalam membenarkan cerita Evie.

"Banyak tetangga yang kenal Turdi... Dia populer di sini, saat itu," kata Rudy Yara, yang masih tinggal di seberang bekas rumah Obama. "Dia orang yang baik dan sangat sabar dalam mengasuh Barry."

Evie berharap bekas asuhannya itu akan menggunakan kekuasaannya untuk membantu orang-orang seperti dia melawan para penindas. Obama sudah menunjuk Amanda Simpson, seorang transgender, sebagai penasihat teknis senior di Departemen Perdagangan pada 2010.

Buat Evie, yang penghasilannya tak cukup untuk hidup sehari-hari di jalanan Jakarta, kemenangan Obama di pemilihan presiden pada 2008 lalu cukup untuk memberinya alasan — setelah sekian lama — untuk berbangga. 

"Sekarang, saat orang-orang menyebut saya sampah, saya bisa bilang: saya dulu menjadi pengasuh Presiden Amerika Serikat!"

Perjuangan eksistensi kaum waria

a. Napak tilas
Dalam situs resmi Gaya Nusantara (GN) (www.gayanusantara.or.id), diketahui sekitar tahun ± 1968 istilah wadam pertama kali diciptakan sebagai pengganti yang lebih positif bagi istilah banci atau bencong. Namun, sekitar tahun ± 1980, istilah wadam kemudian harus diganti menjadi waria karena keberatan sebagian pemimpin Islam. Keberatan ini dikarenakan kata wadam mengandung nama seorang nabi, yakni Adam a.s.Di tahun berikutnya, yakni pada tahun 1969 organisasi wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri, antara lain difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya ketika itu, yakni Ali Sadikin.

Di New York, Amerika Serikat, pada Juni tahun 1969 berlangsung Huru-Hara Stonewall, ketika kaum waria dan gay melawan represi polisi yang khususnya terjadi pada sebuah bar bernama Stonewall Inn. Peristiwa ini dianggap permulaan pergerakan gay dan waria yang terbuka dan militan di Barat. Hingga sampai hari ini, gerakan perlawanan tersebut senantiasa dirayakan dengan pawai dan acara-acara lain. Tidak hanya di Amerika Serikat, perayaan tersebut juga dilakukan di beberapa Negara termasuk di Israel, Amerika Latin, Jepang, Pilipina, India dan di Indonesia.

Pada tanggal 22 Juli 1996 diketahui salah satu partai peserta Pemilu di Indonesia, yakni Partai Rakyat Demokratik (PRD) menjadi partai pertama dalam sejarah Indonesia yang mencantumkan "hak hak homoseksual dan transeksual" dalam manifestonya. Manifesto ini sekaligus menegaskan keberpihakan PRD terhadap kelompok minoritas yang memang menjadi spirit dan khittah gerakan partai ini, yakni gerakan kiri (marxisme) yang ketika itu masih dianggap haram bagi orde baru.

Hingga akhirnya, setelah berakhirnya kejayaan Orde Baru dengan pucuk pimpinan Negara dan pemerintahannya adalah Soeharto, maka pada bulan Juni 1999 Gay Pride dapat dirayakan di Surabaya, bekerja sama antara GN, Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) dan Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL). Lalu kemudian Oktober 1999 pada International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke-5 di Kuala Lumpur, Malaysia, dibentuk jaringan lesbian, gay, biseks, waria, interseks dan queer (LGBTIQ) se-Asia/Pasifik bernama Asia/Pacific Rainbow (APR). Gaya Nusantara (GN) ikut menjadi pendiri jaringan ini. Jaringan ini, sekali lagi diharapkan membawa perubahan besar bagi keberlangsungan eksistensi kaum LGBTIQ di Asia, terkhusus di Indonesia.

b. Waria; “kaum yang terlupakan”
Sejarah belum pernah mencatat dengan pasti kapan dan dimana kebudayaan waria mulai muncul. Hal ini yang mungkin saja mengindikasikan bahwa kaum waria belum masuk ke dalam lingkungan peradaban “manusia normal” karena stigmatisasi tertentu yang negatif. Budaya waria sendiri tidak lahir begitu saja akibat modernisasi dimana banyak mengakibatkan kelainan-kelainan seksual, seperti homoseks yang dianggap sebagai modernisasi dan sebagainya.

Al-Qur’an menyebutkan adanya kaum nabi Luth yang disebut ”Liwath” yang artinya ”senggama melalui dubur” (Puspitosari dan Pujileksono, 2005 : 17). Namun tidak dapat dikatakan bahwa apakah pada zaman nabi Luth tadi, kaum yang dilaknat tersebut adalah waria ataukah merupakan kelompok lain yang memang memiliki orientasi seksual sejenis (homoseksual) seperti halnya kaum gay. Atau bisa jadi, alasan dilaknatnya kaum nabi Luth juga bukan karena kelompok homoseksual, melainkan kelompok-kelompok lain yang ketika itu melakukan sikap permusuhan pada utusan-utusan Allah: memusuhi, mengusir, dan mengobarkan peperangan, dan hal ini pula yang sedang berlangsung dalam kehidupan Muhammad SAW ketika berada di kota Mekkah.

Sejarah bangsa Yunani tercacat adanya kaum waria pada abad ke XVII yaitu munculnya beberapa waria kelas elite seperti Raja Henry III dari Prancis, Abbe de Choicy Duta Besar Prancis di Siam, serta Gubernur New York tahun 1702, Lord Cornbury (Koeswinarno, 2004 : 24). Diasumsikan fenomena tersebut adalah fenomena waria, sebab ciri dan performa yang ditunjukkan sangat dekat dengan gejala waria menurut definisi yang ada, yakni berdandan layaknya perempuan dan menyukai sesama laki-laki.

Dukun pria di Turco-Mongol di Gurun Siberia pada umumnya berpakaian perempuan. Mereka biasanya memiliki kesaktian dan ditakuti orang. Dukun-dukun semacam ini dapat juga dijumpai di negara Malaysia, kepulauan Sulawesi, Patagona, kepulauan Aleut dan beberapa suku Indian di Amerika Serikat. Oman terkenal dengan xanith. Konon, xanith diperbolehkan untuk melindungi kaum perempuan dari berbagai bahaya dan pekerjaan sehari-hari. Menurut sejarah, di Oman pelacuran perempuan sangat jarang dan seandainya ada harganya sangat mahal, xanith kemudian beralih fungsi sebagai pelacur dengan harga yang terjangkau oleh kelas ekonomi bawah sekalipun. Busana yang dipakai xanith mengandung dua fungsi yaitu sebagai budaya dan sebagai daya tarik seksual ketika mereka berfungsi sebagai pelacur. Berbagai catatan tersebut, tidak jelas apakah mereka benar-benar kaum waria yang fenomena psikologisnya sebagaimana gejala transseksual atau sekedar gejala transvestet (Muthiah, 2007:14) .

Di Indonesia dikenal dengan baik fenomena warok yang senantiasa memelihara gemblak, yakni pemuda usia belasan tahun sebagai piaraan Sang Warok, yang berfungsi sebagai pelepas hasrat seksualnya. Kemudian di dalam kesenian tradisional Jawa Timur, ludruk, di mana setiap tokoh perempuan senantiasa diperankan oleh laki laki. Perkembangan terakhir juga menunjukkan bahwa dunia waria menjadi ekspoitasi media massa besar-besaran, karena karena kelucuan perilaku yang ditampilkan, misalnya, Group Lenong Rumpi, Dorce, Tata Dado, Aming dan sebagainya.

Menengok berbagai masyarakat adat, kita temukan juga hubungan seksual dan/atau emosional antarlelaki, baik di antara mereka yang sebaya maupun yang beda usia (transgenerasi). Apakah di Aceh di kalangan ulëëbalang (umumnya dengan budak belian dari Nias) maupun di lingkungan perdagangan di pantai timur dan barat di masa lampau, di Minangkabau (induak jawi—anak jawi) dalam konteks kehidupan di surau, di Ponorogo (warok, warokan, gemblakan) dalam konteks ilmu kanuragan dan kesenian reyog, di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur (mairilan, amrot-amrotan) serta Madura (laq-dalaqan) dalam konteks kehidupan nyantri/nyantre, maupun di beberapa budaya Melanesia dalam konteks ritus inisiasi anak laki-laki, hubungan antarlelaki, dengan berbagai pemaknaan sosial-budaya, memang ada, termasuk hubungan-hubungan “biasa” (artinya, tidak dalam konteks ritual tertentu) seperti di Jawa dan Bali, umpamanya. Yang signifikan adalah bahwa hubungan itu hampir senantiasa terjadi bersamaan dengan maupun disusul oleh pernikahan atau hubungan dengan perempuan atau kadang-kadang juga individu semacam waria (Oetomo, 2006 : 4).

Di Indonesia, budaya waria memang tidak secara khusus seperti di Oman, Turco-Mongol, atau tempat-tempat lain (Nadia, 2005 : 53). Meskipun demikian, kita dapat menemukannya, seperti misalnya penjelasan diatas pada masyarakat Ponorogo Jawa Timur yang berkecimpung dalam dunia seni Warok. Para Warok di daerah ini terkenal sangat sakti yang menjadikan mereka kebal terhadap senjata tajam. Agar dapat menjalankan ilmunya dengan sempurna maka ada berbagai pengorbanan dan persyaratan yang harus dijalaninya. Setiap Warok Ponorogo dapat dipastikan memiliki gemblakan (laki-laki usia 9-17) yang bertugas untuk membantu pekerjaan rumah hingga memberikan kebutuhan seksual kepada sang Warok.

Kebutuhan seksual ini membuat para warok selalu memilih gemblakan laki-laki muda yang berwajah cantik dan berkulit halus. Hal tersebut dilakukan karena adanya larangan untuk menggauli perempuan sebelum ilmu yang dipelajari dapat dikuasai, dan setelah ilmu mereka mencapai tingkat kematangan mereka pun diperbolehkan berhubungan seks dengan perempuan yang dinikahinya. Perlakuan warok terhadap para gemblak inilah yang dapat menjerumuskan perilaku seksual remaja tersebut menjadi seorang waria karena warok seringkali memperlakukan gemblak-nya sebagai seorang perempuan baik dalam perilaku, berpakaian dan dandanannya.

Kaum waria pada zaman kerajaan Jawa terdahulu termasuk dalam kelompok yang justru memiliki daya tarik tersendiri karena kelainan yang dideritanya, sehingga mereka tidak disingkirkan namun menjadi sebuah momentum dunia kegaiban. Kesenian gandrung (Banyuwangi) ditarikan oleh bocah laki-laki berusia 10-12 tahun yang berpakaian perempuan. Di Kalimantan, Suku Dayak Ngaju mengenal pendeta perantara (medium-priest) yang mengenakan pakaian lawan jenis. Basir adalah seorang laki-laki, namun dalam segala hal dia berperilaku sebagai perempuan, termasuk dalam orientasi seksual. Transvestisme dan homoseksualitas sang Basir tampaknya erat terkait dengan sakralitas (kesucian) fungsinya dalam ritus-ritus (Oetomo, 2004:18).

Di Sulawesi Selatan, suatu institusi yang tidak sakral adalah bajasa (penyaru) pada suku Toraja pamona (bare’e). Identitas laki-laki pada suku ini di masa lampau adalah ikut bertempur. Laki-laki karena suatu hal (usia tua, cacat fisik) dan tidak dapat pergi bertempur kemudian diberi jalan dengan berpakaian perempuan sebagai seorang bajasa. Sebagian bajasa, diketahui dapat pada akhirnya menjadi tadu mburake, yaitu pendeta (shaman) pada suku toraja ini.

Selain itu, suku Bugis-Makasar pun terdapat fenomena serupa yaitu Bissu (laki-laki yang diberi tugas menjaga pusaka). Dan seorang Bissu diharapkan mengenakan pakaian perempuan, dilarang berkomunikasi dan dilarang berhubungan badan dengan perempuan. Hal ini dilakukan demi sakralitas pusaka-pusaka yang dijaganya. Bissu merupakan jejak budaya Bugis pra Islam yang masih tersisa hingga kini. Fungsi Bissu pada zaman kerajaan adalah sebagai pendeta agama bugis kuno pra-Islam. Kata “Bissu” itu sendiri berasal dari “bessi”, yang berarti bersih. Waria yang menjadi bissu dianggap suci atau tidak kotor. Disebut demikian karena Bissu tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Selain waria, ada pula “Bissu Perempuan”, yaitu mereka yang menjadi bissu setelah mengalami masa menopause. Panggilan spiritual menjadi bissu yang kemudian mengangkat status sosial dan derajat mereka, paling tidak dalam konteks kekinian mereka “bukan sembarang waria, tetapi waria sakti”.

Salah satu kelebihan komunitas bissu adalah kenyataan bahwa mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’(bahasa orang langit). Bahasa inilah yang kadang bercampur dengan bahasa bugis pasaran dalam komunikasi sehari-hari. Memang, keberadaan bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi bugis kuno yang masih eksis di tanah bugis hingga dewasa ini. Perbedaan bissu dengan waria kebanyakan adalah ilmu, bahasa dan kesaktian yang dimilikinya, selain cara berpenampilan dan berpakaian tentunya. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Menurut Puang Saidi, untuk menjadi bissu harus ada panggilan spiritual dan hal ini tidak bisa direkayasa, apalagi sampai berbohong. Sebagai Puang Matowa, dirinya akan mendapat isyarat akan adanya waria yang akan datang magang ke rumahnya. (www.kompas.com).

Bissu dalam upacara adat tidaklah berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari budaya atau tradisi yang berlaku bagi masyarakat pendukungnya. Itulah sebabnya, Bissu kadang juga memposisikan diri sebagai sanro’ atau pinati, perias pengantin, peramal (membaca tanda-tanda kehidupan seseorang yang datang kepadanya), atau sebagai traditional event organizer bagi kegiatan seni budaya pemerintah atau masyarakat yang punya hajatan pada saat sekarang ini.

c. Waria, riwayatmu kini
Sebagai sebuah realitas sosial kontemporer, waria tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan yang ada di sulawesi selatan. Hal ini nampak sekali dari uraian Boellstorff (2005:55) mengutip cerita dan kisah epik I La Galigo (jilid I) bahwa memang waria (sakti) dalam hal ini bissu, telah ada sejak zaman pra-islam yakni pada masa kehidupan Tomanurung dan tokoh Sawerigading. Setidaknya hal tersebut pula diceritakan dalam catatan tertulis orang barat oleh kunjungan antonio de Palva ke sulawesi pada tahun 1545. Mereka muncul dalam sumber-sumber dari tahun 1600-an, demikian juga tulisan tentang perjalanan dari James Brooke pada tahun 1840 (Andaya, 2004:41; Bileys, 1995:117; Pelras, 1996:56 dalam Boelstroff, 2005:55). Dengan demikian, penjelasan tersebut dengan sendirinya menolak anggapan bahwa waria merupakan produk dari modernisasi ataupun gloibalisasi yang seringkali beberapa pihak menyebutkannya secara serampangan.

Waria sakti (bissu) yang umumnya kini merupakan waria laki-laki (Hamzah, 1978:56; Pelras, 1996:165-167 dalam Boellstorff, 2005:55) dalam budaya bugis silam (pra-Islam) memiliki kedudukan terhormat sebagai penyambung lidah raja dan rakyat, penghubung antara raja dengan para dewa (Tuhan), serta bertugas menjaga benda harta pusaka kerajaan (Makkulau, 2008:17,20-21,23-32). Hal ini dikarenakan kepercayaan masyarakat bahwa bissu memiliki kekuatan mistis dan mereka terbebas dari hal-hal yang dapat mengganggu kesucian mereka (Makkulau, 2008:21), seperti menahan diri dari seks (Boelstorff, 2005:55) serta menjaga tutur kata, sikap dan perbuatannya (Makkulau, 2008:29). Mereka juga dipercaya mampu melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa depan serta berkomunikasi dengan dunia atas dengan menggunakan bahasa torilangi (Makkulau, 2008:.29) sehingga dalam menentukan hari baik untuk melaksanakan sesuatu hal, sudah seharusnya meminta pertimbangan dari para bissu.

Graham (2003) mengemukakan bahwa menurut sejarah, para bissu terlibat dalam profesi seumur hidup untuk menjaga pusaka kerajaan dan menyelenggarakan ritual-ritual bagi para bangsawan, khususnya peristiwa kehidupan seperti kelahiran dan perkawinan (siklus hidup), demikian juga ritual untuk kesuburan sawah. Salah satu ritual bissu yang paling terkenal berupa keadaan tak ssadarkan diri yang dibuktikan melalui maggiri, dimana para bissu berupaya untuk menusuk diri mereka sendiri dengan keris upacara; bila tubuh para bissu betul-betul menjadi milik dewata, keris-keris tersebut tidak akan bisa masuk (dalam Boelsstorff, 55-56).

Namun, setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu tersebut nyaris hilang karena upacara-upacara tidak dibenarkan lagi. Ritual-ritual bissu dianggap sebagai kegiatan syirik dan bertentangan dengan semangat penerapan syariah yang dimotori oleh kerajaan Gowa. Peranan bissu semakin pupus ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik, seiring memudarnya lembaga-lembaga adat (Makkulau, 2008:27). Kondisi tersebut diperparah dengan bangkitnya gerakan fundamentalis Islam Kahar Muzakkar di sulawesi selatan pada pertengahan tahun 1960-an. Salah satu elemen dalam gerakan ini, “Operasi Tobat” bertujuan pada praktek-praktek yang dianggap tidak islami, khususnya praktek bissu. Ribuan perlengkapan ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan kelaut. Tidak sedikit bissu yang dibunuh. Yang dibiarkan hidup digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki tulen (Boelsstorff, 2005:55, Makkulau, 2008:27).

Sejak akhir tahun 1990-an, telah ada upaya untuk revitalisasi praktek bissu. Sebagian hal ini merefleksikan adanya pemujaan kembali adat di seluruh nusantara akibat lengsernya Soeharto pada tahun 1998, didukung oleh kebijakan pemerintahan baru terhadap otonomi daerah. Namun demikian, ternyata upaya-upaya revitalisasi praktek bissu ini gagal. Upacara-upacara bissu secara radikal telah disederhanakan (misalnya upacara agraria mappalili di kawasan Segeri yang dulu berlangsung selama 40 hari, kini diselenggarakan hanya dalam satu malam), dan banyak upacara kini dipertunjukkan hanya untuk wisatawan, dan sawah-sawah yang dulu diberikan kepada komunitas bissu untuk penghasilan telah di ambil dan dijual (lathief, 2004:69,87-89,83-85 dalam Boelsstorff, 2005:56). Senada dengan hal tersebut, Makkulau (2008:28-29) dalam bukunya menulis bahwa saat ini tidak sedikit anak muda dan calabai (waria yang belum/tidak sampai pada tingkatan bissu) menggunakan kesempatan upacara adat Mappalili sebagai ajang main-main. Lebih memprihatinkan lagi, beberapa kabupaten telah mengebiri fungsi dan peran komunitas bissu menjadi sekedar sebuah sanggar seni tari saja.

d. Simpulan
Dari uraian di atas dapat di pahami bahwa posisi subyek waria memang telah ada dan di kenal sejak dulu. Bahwa waria bisa ditemukan di mana saja di nusantara, dan hingga saat ini waria cenderung di asosiasikan tidak dengan ritual namun dengan hiburan budaya populer, penjualan komoditas kecil, dan pekerjaan seks (Boelsstorff, 2005:74). Padahal, kita menemukan fakta sejarah bahwa komunitas waria pada mulanya memiliki tempat terhormat di sisi masyarakat. Namun hari ini segala hal berubah dan tidak lagi sama seperti yang di ceritakan oleh sejarah. Padahal, kita menemukan fakta sejarah bahwa komunitas waria pada mulanya memiliki tempat terhormat di sisi masyarakat.

Secara kultural berbagai fenomena seperti waria dengan segala macam bentuk dan ekspresi budayanya masing-masing di dalam kebudayaan dunia maupun Nusantara menunjukkan bahwa ada pengakuan atas keberadaan dan kehadiran kaum waria, sehingga mereka mendapat tempat di berbagai ruang sosial. Akan tetapi di dalam praktik kehidupan sehari hari tidak semua ruang sosial memberikan tempat bagi kehidupan seorang waria. Dapat dikatakan, hari ini segala hal berubah dan tidak lagi sama seperti yang di ceritakan oleh sejarah. Dan pada akhirnya, waktu jualah yang akan menentukan sampai kapan komunitas waria bisa bertahan di tengah arus deras peradaban yang terus berubah.

Megie Megawati: Waria Juga Manusia

Pengakuan akan sebuah eksistensi terasa menjadi hal yang paling krusial terutama untuk kelompok yang merasa termarjinalkan, seperti kaum waria. Kaum yang memang ada di tengah-tengah kita dan menjadi bagian dari keunikan hidup. Tapi mereka kerap terpinggirkan akibat pandangan sebagaian masyarakat kita. Namun Megie Megawati ketua waria Indonesia membela kaumnya.
"Padahal waria juga manusia," ujar Megie Megawatiseusia jumpa pers Pemilihan Putri Waria 2006, di TMII, baru-baru ini. "Kami hanya butuh sebuah eksistensi atau pengakuan dari masyarakat bukan legalitas. Itu terlalu muluk bagi kami," tambah Megie.
Lebih lanjut Megie mengemukakan sebenarnya banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh kaumnya ini tapi tidak pernah terekspos dengan baik. Pemberitaan kaum waria lebih cenderung dari sisi gelapnya seperti terlibat masalah-masalah kriminalitas dan kekerasan seksualitas.
"Padahal kami tidak hanya semacam itu, masih banyak kegiatan positif yang sering kami lakukan seperti penyuluhan dan bimbingan HIV Aids serta berbagai kegiatan positif yang semuanya tak terekspos," papar Megie.
Mengenai Pemilihan Putri Waria 2006, dijelaskan oleh Megie, ini merupakan tindak lanjut dari pemilihan tahun lalu yang batal karena dibubarkan dan diacak-acak oleh organisasi massa."Kita sampai terkencing-kencing di celana, lho," aku Megie lucu. Tapi untuk tahun ini, kata Megie, sudah dipersiapkan lebih matang. “Kami sudah menghubungi beberapa ormas untuk mendukung acara ini. Dan mereka telah bersedia," jelas Megie.
Dalam Pemilihan Ratu Waria 2006 kali ini, tidak hanya kecantikan yang akan dinilai. Tapi juga wawasan mengenai kebudayaan dan pariwisata Indonesia lebih dikedepankan. "Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa melakukan pekerjaaan yang orang normal lain bisa kerjakan," tandas Megie yang berprofesi sebagai konsultan nutrisi perusahaan Amerika.

Waria Juga Manusia.


(Analisis tentang Merlyn Sofjan sebagai Putri Waria 2006)


Prestasi yang ditorehkan oleh Merlyn Sofjan sebagai Putri Waria 2006 patut diacungi jempol. Waria asal Malang Jawa Timur ini seolah- oleh mampu mendobrak stereotype lama soal waria, yang dipandang sebagai kaum yang menyalahi kodrat serta dekat dengan hura- hura dan prostitusi belaka. Memang, sampai saat ini pun, keberadaan waria di Indonesia, terutama di Jawa Timur, belum sepenuhnya mendapat pengakuan dari masyarakat. Padahal, jumlah waria di kota besar Jawa Timur seperti Malang dan Surabaya semakin meningkat. Tidak sedikit dari waria- waria yang semakin menunjukkan eksistensi dirinya, agar diakui sebagai kaum yang benar- benar ada. Saat ini, waria- waria itu tidak bias dipandang sebelah mata. Kebanyakan dari mereka punya kemampuan yang patut dibanggakan. Bahkan, tidak jarang waria- waria zaman sekarang yang berpikiran lebih maju daripada kaum heteroseksual. 

Jika dipandang dari segi gender, sampai saat ini belum ada gender yang benar- benar menjelaskan cirri- cirri waria. Kalau gender wanita dan pria sudah jelas. Manusia berjenis kelamin Wanita, merupakan makhluk yang mempunyai sel telur, bisa hamil, bisa melahirkan, bisa menyusui. Gender wanita ditentukan oleh sikapnya yang cenderung lemah lembut, keibuan dan kalem. Sedangkan Manusia berjenis kelamin pria merupakan makhluk yang memiliki penis serta dapat memproduksi sperma. Gender pria ditentukan oleh sikapnya yang cenderung maskulin, perkasa dan gentle. Gender pria dan wanita tidak mutlak terjadi. Keduanya dapat dipertukarkan. Artinya, ada juga wanita yang sikapnya cenderung maskulin dan tegas layaknya seorang laki- laki. Sebaliknya, ada juga pria yang sikapnya cenderung keibuan dan lemah lembut. Namun, jenis kelamin mutlak dimiliki oleh mereka masing- masing serta tidak dapat dipertukarkan. Jenis Kelamin merupakan ciptaan Tuhan benar- benar nyata.

Membedakan jenis kelamin dan gender yang dimiliki oleh waria merupakan hal yang unik. Bagaimana tidak, dari segi jenis kelamin, waria memang berjenis kelamin pria, namun mereka memilki kecenderungan wanita, baik dalam hal sikap maupun cara berpenampilan. Itulah yang membuat keberadaan waria seakan- akan ‘dilupakan’. Bahkan, mereka cenderung ‘dimarginalkan’ oleh kaum masyarakat pada umumnya. Keberadaan waria sering menjadi bahan olok- olokan dan gunjingan para tetangga, kerabat dekat, bahkan keluarga waria itu sendiri. Bagi mereka, waria tidak ubahnya sebagai pelanggaran terhadap norma agama, social, susila serta seabreg norma- norma lainnya. Memang, dipandang dari segi agama apapun, keberadaan waria adalah salah. Mereka yang memutuskan untuk menjadi waria telah menyalahi kodrat dan tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Oke, itu semua benar. Namun, terlepas dari benar atau salah- nya seorang waria, mereka itu benar- benar ada dan nyata. Mereka hidup di sekitar kita. Dan, tidak semua waria yang menyukai dunia hura- hura serta prostitusi belaka. Sebenarnya, jika mau jujur, banyak sikap- sikap waria yang punya makna yang dalam serta patut dijadikan contoh.

Pertama, dari segi psikologis dalam menghadapi masalah, waria cenderung lebih tabah daripada kaum hetero. Sebesar apapun rintangan yang mereka hadapi, termasuk cemoohan, ejekan, umpatan dari orang- orang terdekat, akan mereka hadapi dengan gentleman (bedasarkan kodrat mereka sebagai pria). Sangat jarang sekali kita jumpai ada waria yang yang bunuh diri. Yang sering bunuh diri malah kaum hetero itu sendiri. Surprised! Hal tersebut menjadi bukti yang nyata bahwa waria merupakan kaum yang lebih tabah menjalani permasalahan dalam hidup, melebihi kaum hetero. Kedua, para waria kebanyakan punya keteguhan hati yang kuat. Keteguhan itu dapat dilihat dari sikapnya dalam mempertahankan prinsipnya untuk menjadi waria, walaupun prinsipnya itu mendapat banyak tentangan dari berbagai pihak. Namun semangat mereka patut dicontoh. Keteguhan hati mereka tidak mudah digoyahkan oleh siapapun dan oleh hal apapun. Jika mereka itu tidak tabah dan tidak teguh, maka tidak akan muncul waria- waria berbakat seperti Dorce Gamalama (waria asal Surabaya, Jawa Timur yang kini sukses menjadi artis), Avi Naif (Model Video Klip Band ‘Naif’), Megie Megawati (Queen of Waria) serta Merlyn Sofjan, waria asala Malang Jawa Timur yang baru- baru ini dinobatkan sebagai Putri Waria 2006. Ketiga, kaum waria merupakan kaum yangb lebih terbuka dibandingkan kaum hetero. Mereka tidak segan- segan untuk mengakui keberadaan dirinya sebagai seorang waria, walaupun keputusan untuk menjadi waria dianggap sebagai ‘kekurangan’ oleh sebagian masyarakat, termasuk waria itu sendiri. Namun, kerennya, waria tidak takut untuk mengakui kekurangannya itu! Sungguh luar biasa, dimana kebanyakan manusia, terutama kaum hetero, yang bersembunyi dibalik kemunafikkannya itu.

Dalam talkshow di salah satu Televisi Swata Indonesia yang menayangkan kehidupan waria, termasuk mewawancarai Megie Megawati serta Merlyn Sofjan, sangat tampak sekali aura smart yang dimiliki olah mereka berdua. Buktinya, Megie Megawati mampu memperjuangkan hak- hak dan eksistensi waria lewat Penyelenggaraan Pemilihan Putri Waria di Indonesia. Yang pasti, usaha Megie untuk mengadakan pemilihan tersebut tidaklah gampang. Ia harus menghadapi pro dan kontra dari berbagai pihak. Namun, ketabahan dan keteguhan hatinya itulah yang menjadi prinsipnya, sehingga Pemilihan Putri Waria- pun bisa digelar di Indonesia. Sampai akhirnya, mucullah sosok waria berbakat seperti seorang Merlyn Sofjan. 

Seperti halnya kontes kecantikan lain, untuk menjadi the winner diperlukan 3B (Beauty, Brain, Behaviour) yang menjadi tolak ukur utama seorang pemenang dikatakan sempurna (walaupun tidak ada manusia yang sempurna didunia). Namun di ajang kontes waria ini, penyelenggara sengaja menambahkan satu syarat selain 3B, yaitu brave. Karena, sperti yang kita tahu, bahwa sangatlah tidak mudah untuk mengaku menjadi waria. Rupanya, dewan juri tidak salah memilih Merlyn Sofjan sebagai pemenang. Ia sangat cantik dan sangat mewakili syarat 3B +1 (beauty, brain, behaviour dan brave). Beauty, karena secara fisik, Merlyn memiliki bibir dan tulang dagu yang indah; Brain, karena Merlyn bukan seorang waria biasa. Kecerdasannya dapat dilihat dari penerbitan buku berjudul ‘Jangan lihat Kelaminku’ karya Merlyn sendiri; Behaviour dapat dilihat dari sikap Merlyn yang low profile dan tidak sombong. Ia juga sangat peduli dengan lingkungan. Terbukti, selain menjadi penulis, Merlyn juga menjadi manager di sebuah Rumah Sakit di Malang untuk melayani konsultasi penderita AIDS; Brave, karena Merlyn tidak segan- segan untuk menyuarakan isi hatinya. Apa yang menurut Merlyn benar, akan diperjuangkan dengan sungguh- sungguh. Termasuk, memperjuangkan keputusannya untuk tidak melakukan operasi kelamin. Selain itu, kecerdasan Merlyn membuat rekan- rekannya di Malang mencalonkan ia sebagai Walikota Malang! Sungguh luar biasa!

Sekali lagi, terlepas dari benar atau salahnya waria, mereka itu benar- benar ada, ditengah- tengah kita. Walaupun keberadaan mereka itu belum benar- benar diterima, namun ada banyak hal yang dapat kita contoh dari kaum waria. Mereka memang beda dan unik serta istimewa. Walaupun keunikan mereka itu sering dianggap sebagai salah satu hal yang menyalahi kodrat. Namun, sekali lagi. Waria itu juga ciptaan Tuhan. Mereka punya rasa dan punya hati. Mereka juga punya keinginan untuk lebih dihargai oleh sesama manusia, bukan Cuma oloka- olokan dan cemoohan yang malah lebih banyak mereka terima. Oke, waria tetap waria. Meraka juga manusia. Tidak ada manusia yang sempurna didunia. Apalagi waria. Namanya juga manusia… Waria- pun juga manusia. So, marilah kita hargai mereka seperti layaknya kita menghargai kaum hetero.