468x60_id

Waria Jawa Timur

'Kami juga bisa melakukan pekerjaan apa saja seperti manusia normal pada umumnya. Para waria ingin merubah pandangan negatif masyarakat dengan berbagai kegiatan yang positif dan berprestasi.

Anda Bertanya LGBT Menjawab

Sebuah page tanya-jawab bagi kaum LGBT/Non-LGBT seputar isu gender, seksualitas dan secara spesifik LGBT. Harap untuk tetap sopan dan tidak ada makian atau penyerangan personal. Terima kasih dan selamat bertanya.

In pictures: Indonesia's waria

They wriggle their way through the stalls, rattling home-made instruments and singing songs. The essentials for turning a healthy profit: skimpy clothes, lots of lipstick and a big dollop of attitude.

‘Remaja Gay’ dan ‘Waria Muda’ Rentan Tertular HIV

Menakut-nakuti remaja putra terkait dengan kehamilan pada pacarnya ternyata berujung ’buruk’. Pada masa dorongan hasrat seksual sedang menggebu-gebu mereka terperangkap dalam ketakutan.

Waria Kini Diakui di Paspor Australia, Ada Pilihan Jenis Kelamin untuk Kaum 'Waria'

Kejutan dari pemerintah Australia. Kini di paspor yang dikeluarkan negara Kangguru itu ada tiga pilihan gender, yaitu laki-laki, perempuan, dan 'belum ditentukan'.

Tampilkan postingan dengan label Bidik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidik. Tampilkan semua postingan

Perempuan Dengan "P"

Saya tidak mungkin bisa mencintai kamu, ada hal yang kamu belum tahu tentang saya, ungkap Bree (Felicity Huffman) ketika Toby (Kevin Zegers) mengungkapkan rasa cinta kepada Bree.
Bree adalah seorang laki-laki (berpenis) yang telah melakukan "penyesuaian" kelamin menjadi seorang perempuan melalui tindakan operasi. Sedangkan Toby, laki-laki muda yang tidak lain adalah anak kandung dari Bree. Toby belum mengetahui jika Bree adalah ayah kandungnya. Walau Toby mengetahui secara tidak sengaja Bree adalah seseorang yang memiliki penis. Toby merasakan Bree adalah sosok perempuan dewasa baik dan telah membantu dirinya keluar dari penjara akibat Narkoba.
Keputusan Bree untuk melakukan penyesuaian kelamin sebagai seorang perempuan mendapatkan tantangan dari keluarganya (ayah dan ibu). Walau akhirnya kedua orang tua dan Toby sendiri mulai pelan-pelan menyadari dan menerima sosok ayah kandungnya sekarang yang telah berubah menjadi seorang ibu.
Itulah penggalan cerita dari film TransAmerika garapan sutradara Duncan Tucker yang berdurasi 103 menit. Saat bersamaan film ini pukul 00.00 (20/11/2011) diputar di siaran televisi Ochannel.
Film ini diputar dan didiskusi bersama dalam peringatan Hari Transgender Internasional, Sabtu (19/11/2011) di Sekretariat Ourvoice, Jakarta Selatan-Indonesia. Setelah akhir film dilakukan diskusi bersama Suniyya (Transeksual), Ienes Angela (Transgender) dan bersama kelompok Lesbian dan Gay dengan moderator Pandu. Hari Transgender sendiri diperingati setiap tahun pada 20 November 2011.
Film itu menunjukkan fakta seorang transeksual masih dapat mempunyai anak, ketika sperma masih dapat diproduksi. Ini meruntuhkan pandangan bahwa seorang Transgender, Gay ataupun Lesbian tidak memiliki anak. Selain persoalan meyangkut kesiapan pribadi, transeksual juga akan berhadapan dengan keluarga, masyarakat dan pandangan agama. Sehingga keputusan menjadi seorang transeksual bukan persoalan yang mudah untuk dihadapi dalam masyarakat yang masih sangat phobia(takut/benci) kepada sesuatu yang berbeda. Terutama perbedaan karena orientasi seksual dan identitas gender.
Untuk sampai pada keputusan melakukan penyesuaian kelamin melalui tindakan operasi dibutuhkan kesiapan mental yang besar. Tetapi tidak semua seorang transeksual ingin melakukan penyesuain kelamin melalui tindakan operasi. Seperti yang diungkapkan oleh Sunniyya, dirinya adalah seorang perempuan dengan apa yang ada dirinya. Perempuan berpenis! Transeksual sendiri meyangkut banyak aspek seperti; sosial, budaya, politik, maupun psikologis. Jadi bukan persoalan alat kelamin phisik belaka (penis-vagina).
Sebagian transeksual mengalami persoalan atas keberadaan tubuh sendiri, ada pendapat seorang transeksual "terperangkap dalam tubuh yang salah". Laki-laki terperangkap dalam tubuh perempuan begitu juga perempuan terperangkap dalam tubuh laki-laki. Memiliki penis tapi merasa perempuan atau bervagina tapi merasa laki-laki.
Sehingga ada yang memutuskan untuk melakukan operasi "penyesuaian" kelamin atau therapy hormon secara medis.
Dibeberapa negara yang menghukum homoseksual seperti Iran, justru melegalkan praktek penyesuain kelamin secara medis, bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi seorang transeksual ataupun transgender untuk "meneguhkan" jenis kelaminnya. Menjadi Laki-laki atau perempuan. Padahal jenis kelamin manusia tidak bisa ditentukan oleh tindakan medis semata tetapi ada aspek sosial, budaya, politik maupun psikologis yang perlu dipertimbangkan.
Kita berharap peringatan hari Transgender tahun 2011 akan mendorong semua pihak khususnya negara untuk memberikan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan kepada transgender dan transeksual sebagai warga negara. Pada akhir acara setiap peserta menorehkan tanda tangan dan pesan pendek diatas kertas plano bagi pemajuan hak-hak transgender, sambil menghidupkan lilin sebagai simbol harapan masa depan yang masih terang.
*Sekum Ourvoice

KETIKA WARIA BERTASBIH

Manusia mempunyai kedudukan yang sama di mata Tuhan dan hanya amal yang membedakannya. Tetapi faktanya, kaum waria masih banyak dipandang sebelah mata terutama ketika mereka berniat melaksanakan ibadah dan berlatih menata iman.

Salah satu pemandangan yang sangat khas terlihat di salah satu rumah di Kampung Notoyudan, Gedong Tengen, Jogjakarta. Ditempat ini berdiri sebuah Pesantren yang dikhususkan bagi para waria di Jogja dan sekitarnya. Ditempat ini setiap Senin dan Kamis para santri waria mulai dari waria pengamen, salon, sampai yang masih keluar malam (PSK) meneguhkan iman dengan berbagai kegiatan keagamaan. Meski waria, kami rindu dan tetap ingin dekat dengan Allah ujar Mariyani (48), seorang waria dan sekaligus sang pendiri.

Meski namanya Ponpes Senin-Kamis, kegiatan sudah dimulai sehari sebelumnya dan mulai berlangsung sekitar jam 16.00. Dibimbing para ustaz, mereka belajar membaca Al Quran. Malamnya, kami wirid, lalu baca doa kesehatan, mohon rezeki, sampai tahajud. Tidur sebentar, disambung lagi salat fajar jam 03.30, kemudian salat subuh.

Untuk teman-temannya, Mariyani menyediakan sarung dan mukena untuk sembahyang. "Terserah kawan-kawan mau pakai apa. Sarung silakan, mau pakai mukena juga boleh. Yang penting kami bisa sembahyang. Soal diterima atau tidak, hanya Allah yang mengetahui " katanya mantap.

Ada yang kontra dengan kegiatan pesantren waria ini karena dianggap menodai agama karena menjalankan ibadah dengan tidak semestinya. Ini karena Islam membedakan tata cara ibadah bagi pria dan wanita.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ketua MUI yogyakarta jauh lebih bijak dalam menyikapi pesantren waria ini. Menurut beliau kegiatan pesantren waria ini positif adanya. Setidaknya ada niat baik yang tumbuh dari para waria untuk mendekatkan diri padaNya.
Sekalipun mereka masih melanggar hukum agama tetapi niat baik tetaplah harus dihargai. Siapa tahu mereka bisa menemukan hidayah Allah dari kegiatan pesantren waria ini dan kembali ke jalan yang benar.

Mau lihat kegiatannya ? klik aja tuh videonya.



ADA PENDAPAT LAIN...?


Sumber : berbagai sumber




Waria di Kediri Wajib Tes HIV/AIDS Saban 3 Bulan


Kediri - Persatuan Waria Kota, Perwaka Kediri, Jawa Timur mewajibkan ratusan anggotanya mengikuti VCT alias tes HIV-AIDS setiap tiga bulan sekali.
Langkah itu dilakukan menyusul kasus lima waria meninggal dunia akibat HIV-AIDS dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Ketua Perwaka Kediri Ike Fradasari mengatakan aktitas keseharian yang dilakukan para waria membuat mereka rentan terkena HIV-AIDS termasuk penyakit infeksi menular seksual lainya. Hasil VCT atau tes HIV-AIDS bulan lalu menunjukkan ternyata dari 150 anggota perwaka Kediri 100 persen waria dinyatakan bebas dari HIV-AIDS.
“Selama ini keluarga tidak pernah mengurus (anggota keluarnganya yang -red) waria. Ada yang meninggal di jalanan.  Oleh sebab itu saya buat aturan waria harus dalam tiga bulan sekali memeriksaan diri untuk mencegah kasus HIV maupun IMS (Infeksi Menular Seksual),” jelas Ika.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kedri, hingga september tahun ini tercatat 124 orang pengidap HIV-AIDS. 11 orang diantaranya  meninggal dunia. Dari korban meninggal, 5 orang adalah waria.