468x60_id

Waria Jawa Timur

'Kami juga bisa melakukan pekerjaan apa saja seperti manusia normal pada umumnya. Para waria ingin merubah pandangan negatif masyarakat dengan berbagai kegiatan yang positif dan berprestasi.

Anda Bertanya LGBT Menjawab

Sebuah page tanya-jawab bagi kaum LGBT/Non-LGBT seputar isu gender, seksualitas dan secara spesifik LGBT. Harap untuk tetap sopan dan tidak ada makian atau penyerangan personal. Terima kasih dan selamat bertanya.

In pictures: Indonesia's waria

They wriggle their way through the stalls, rattling home-made instruments and singing songs. The essentials for turning a healthy profit: skimpy clothes, lots of lipstick and a big dollop of attitude.

‘Remaja Gay’ dan ‘Waria Muda’ Rentan Tertular HIV

Menakut-nakuti remaja putra terkait dengan kehamilan pada pacarnya ternyata berujung ’buruk’. Pada masa dorongan hasrat seksual sedang menggebu-gebu mereka terperangkap dalam ketakutan.

Waria Kini Diakui di Paspor Australia, Ada Pilihan Jenis Kelamin untuk Kaum 'Waria'

Kejutan dari pemerintah Australia. Kini di paspor yang dikeluarkan negara Kangguru itu ada tiga pilihan gender, yaitu laki-laki, perempuan, dan 'belum ditentukan'.

5 Lagu yang Bicara tentang Waria

Bee Gees - More Than A Woman

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa grup musik asal Inggris, Bee Gees mempunyai sebuah lagu disko yang menceritakan tentang seorang waria yang begitu dicintai pasangannya. Lirik dalam lagu itu menceritakan tentang seorang pria yang mengagumi sosok teman (pria) yang sudah dikenalnya sejak kecil, yang kemudian menjelma menjadi seorang perempuan cantik.

Lagu 'More Than A Woman' dirilis oleh Bee Gees di album soundtrack film 'Saturday Night Fever' pada 1977. Lagu ini juga banyak dinyanyikan ulang, oleh musisi dari Norwegia sampai Hong Kong. Ada juga yang merilisnya kembali dalam album acapella.

Rod Stewart - Da Ya Think I'm Sexy [*]No Rwe

Penyanyi rock senior yang satu ini menggambarkan tentang pasangan pria dan wanita yang berada dalam sebuah bar dengan perasaan yang begitu gugup. Rod Stewart menceritakan bahwa si wanita yang sudah menunggu lama untuk berkencan, namun ternyata pria itu terlihat takut dengan jantung yang berdetak cepat

Lagu ini muncul pada album 'Blondes Have More Fun' yang dirilis pada 1978. Lirik lagu ini ingin menjelaskan apakah sebagai seorang transgender, 'wanita' dalam video lagu ini sudah cukup seksi untuk sebuah ajakan berkencan. Hmm Anda yang menilainya!

The Kinks - Lola

The Kinks adalah grup musik lawas asal Inggris yang terbentuk pada 1964. Mereka juga mempunyai cerita tentang seorang waria dalam lagu yang berjudul 'Lola'. Lagu ini terinspirasi oleh manajer mereka sendiri yang menghabiskan suatu malam di sebuah klab ternama di London dengan seorang waria kulit hitam.

Lagu yang eksis pada era 70-an ini dirilis dalam album bertajuk 'Lola versus Powerman and Moneyground Part 1'. Lagu ini juga sempat menduduki puncak tangga lagu Inggris dan dinyanyikan ulang oleh beberapa penyanyi waria di seluruh dunia.

Lou Reed - Walk On The Wild Side

Sepertinya era 50-an juga ikut menyumbang lagu bertema 'nyentrik' ini, lewat Lou Reed, seorang penyanyi dan penulis lagu Amerika yang sudah memulai kariernya sejak 1964. Lagu 'Walk On The Wild Side' ditulis setelah ia keluar dari grupnya pada 1972, dan masuk ke dalam daftar lagu di album keduanya yang berudul 'Transformer'.

Lagu yang diproduseri oleh David Bowie ini secara lugas menceritakan tentang topik yang saat itu masih tabu, yaitu waria, gigolo sampai dengan seks oral. Lagu kontroversial ini sempat menduduki peringkat ke-16 dalam tangga lagu Billboard 200.

Naif - Posesif

Bagi grup musik Indonesia, bukanlah hal yang lumrah mengangkat tema waria ke dalam lagu-lagunya. Tapi, salah satu yang sukses dengan tema itu adalah Naif. Merilis lagu berjudul 'Posesif' pada 2000, Naif kemudian berhasil mengangkat 'nama baik' waria dalam lagu maupun video klipnya.

Naif ingin menyampaikan kepada semua orang bahwa menjadi waria adalah pilihan dengan tanggung jawab. Dalam video klipnya yang fenomenal itu, David Cs mengajak seorang waria bernama Joko Wiryanto Suwito alias Avi sebagai modelnya. 
 
 
 

Hanya 35 Persen Waria Bisa Gunakan Hak Pilih

 
YOGYAKARTA (kabarkota.com) - Pengasuh Pondok Pesantren Waria Alfatah Yogyakarta, Shinta Ratri menyebutkan banyak waria yang terancam kehilangan hak politiknya pada Pilpres 9 Juli mendatang karena rata-rata tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP).

"Dari pengalaman Pileg kemarin, hanya sekitar 30 - 35 persen waria yang bisa menggunakan hak pilihnya," ungkap dia. Padahal, jumlah waria di DIY saat ini diperkirakan mencapai 300-an orang.

Selain hak politik yang tidak terpenuhi, rata-rata waria di Yogyakarta juga tidak mendapatkan hak yang sama di dunia kerja. "Para waria umumnya bekerja sebagai pengamen, di salon-salon, dan pekerja seks komersil," sebut Shinta.

Mereka menekuni profesi tersebut, anggap dia, karena tidak memiliki skill dan bekal pendidikan formal yang memadai.

Oleh karenanya, waria 54 tahun ini berharap, agar siapa pun presiden yang terpilih nantinya akan memberikan perhatian khusus kepada kelompok minoritas ini, khususnya dalam pemenuhan hak sebagai warga negara pada umumnya.

Sebelumnya, pada 2 Juli kemarin, dalam debat tim sukses capres-cawapres yang digelar di Kampus Universitas Atmajaya Yogyakarta, tim dari kedua pasangan sepakat berkomitmen untuk memberikan perlindungan hak-hak warga negara bagi kaum transgender.

Tim pemenangan Prabowo Hatta DIY, Anang Sabtoni menganggap bahwa bagaimana pun mereka adalah bagian dari warga negara yang membutuhkan perlindungan. Hanya saja, bagaimana bentuk perlindungannya, itu masih  mempertimbangkan penghargaan terhadap nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

"Kami harus memberi mereka ruang untuk aksesabilitas," tegas Anang.

Senada dengan Anang, Tim Pemenangan Jokowi - JK yang diwakili oleh Esti Wijayati juga berpendapat bahwa pasangan capres nomer urut 2 sejak awal sudah berkomitmen untuk mrmberikan perlindungan bagi mereka, seperti hak pendidikan, dan kesehatan, serta perlindungan dari kekerasan seksual.

Salah satu bentuk konkritnya, sambung Esti, berupa perumusan Rancangan Undang-Undang anti Kekerasan Seksual. (mon/tri)

Relasi Waria Dalam Masyarakat

A. Latar Belakang Masalah
Waria adalah singkatan dari “Wanita pria”, Waria atau yang sering kita sebut banci dalam sehari-hari merupakan salah satu penyimpangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Waria? Terkadang kita tidak asing mendengar kata itu, karena sering menjadi perbincangan masyarakat. Bagaimana mungkin seorang pria berperilaku seperti layaknya seorang wanita, hal itu sangat tidak wajar. Karena Tuhan hanya menciptakan dua gender  yaitu PRIA dan WANITA. Dengan segala kelebihan dan kodratnya masing-masing. Tapi coba kita lihat secara fisik dari para waria? Terlihat aneh mungkin untuk sebagian masyarakat, bahkan sebagian orang memandang sebelah mata terhadap kaum waria tanpa melihat sisi kehidupan lain dari para waria tersebut.
Banyak hal/sebab yang dikemukakan para waria yang melatari dirinya untuk menjadi seorang waria itu sendiri. Kebanyakan dari mereka menyebutkan faktor “terjebak pada raga yang salah”. Namun menurut beberapa narasumber ada 7 faktor yang menyebabkan seseorang menjadi waria, yaitu :
1. Terjebak pada raga yang salah
2. Adanya mutasi gen
3. Tuntutan ekonomi
4. Terpengaruh budaya barat
5. Trauma
6. Pengaruh lingkungan
7. Tanda akhir Zaman
Karena adanya faktor umum yang menjadikan beberapa laki-laki menjadi waria, maka saya (penulis) ingin mengetahui faktor penyebab seorang laki-laki menjadi waria jika dikaitkan dengan sosiologi dan dampak adanya waria di dalam masyarakat, terlebih jika dikaitkan dengan Grand Theory Sociology terhadap waria.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang menyebabkan seorang laki-laki menjadi waria jika dikaitkan dengan teori perilaku menyimpang sosiologi.
2. Hubungan antara waria dan Grand Theory Sociology
3. Dampak adanya waria dalam masyarakat
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk memenuhi tugas sosiologi.
2. Untuk menganalisis fenomena waria terkait dengan Grand Theory Sociology
3. Untuk mengetahui dampak waria dalam kehidupan bermasyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Waria
Ø Pengertian waria atau wanita pria, atau dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai bencong adalah istilah bagi laki-laki yang menyerupai perilaku wanita. Dalam istilahnya waria adalah laki-laki yang berbusana dan bertingkah laku sebagaimana layaknya wanita. Istilah ini awalnya muncul dari masyarakat Jawa Timur yang merupakan akronim dari “wanita tapi pria” pada tahun 1983-an panduan dari kata wanita dan pria.
Pendapat lain mengenai waria adalah kecendrungan seseorang yang tertarik dan mencintai sesama jenis. Sedangkan menurut pendapat lain menjelaskan bahwa waria adalah individu-individu yang ikut serta dalam sebuah komunitas khusus yang para anggotanya memahami bahwa jenis kelamin sendiri itulah yang merupakan objek seksual paling menggairahkan (Koeswinarno,1996).
Secara fisiologis waria itu sebenarnya adalah pria. Namun pria (waria) ini mengidentifikasikan dirinya menjadi seorang wanita. Baik dalam tingkah dan lakunya. Misalnya dalam penampilan atau dandanannya ia mengenakan busana dan aksesori seperti wanita. Begitu juga dalam perilaku sehari-hari, ia juga merasa dirinya sebagai seorang wanita yang memiliki sifat lemah lembut (Koeswinarno,1996)
.
Mereka melakukan aktivitas sehari-hari yang normal, umumnya mereka berprofesi di bidang-bidang yang memerlukan keterampilan yang biasa dilakukan wanita. Seperti salon, butik atau di bidang kesenian, meskipun ada juga yang kerja kantoran. Mereka sering tampil apa adanya artinya tidak menutup-nutupi ciri kewariaan mereka. Biarpun berpakaian laki-laki tetapi gaya bicara dan tingkah laku mereka punya kekhasan seperti wanita. Jika mereka berpakaian wanita, lengkap dengan pernak-perniknya. Dulu mereka cenderung tertutup dan malu-malu namun kini mereka lebih berperan dan terbuka (Harahap,W,1999).
B. Macam-macam Waria
Ø Kaum waria terdiri dari kelompok manusia yang heterogen. Mereka terdiri dari berbagai komponen yang secara psikologis dapat dibedakan karena mempunyai ciri-ciri khusus. Atmojo (dalam Kurniawati, 2013) membagi waria ke dalam beberapa kelompok yakni:
1. Transeksual
Waria yang mengalami ketidasesuaian antara biologis yang dialaminya dengan jenis kelamin mereka. Ada keinginan dari mereka untuk menghilangkan dan menggantikan alat kelaminnya dan hidupnya menjadi sebagai lawan jenisnnya. Untuk langkah awal mereka biasanya menghilangkan ciri fisik laki-lakinya, misalkan dengan mengoperasi sebagian dari tubuhnya seperti payudara, dagu, kelopak mata, atau minimal mereka merasa perlu merias diri dan berpakaian seperti wanita.
2. Transvestite
Kelompok ini adalah penderita transvestism. Artinya mereka cukup hanya berpakaian seperti lawan jenisnya saja sudah mendapat kepuasan batin tersendiri. Dalam pola hubungan seks, mereka adalah heteroseksual dan biasanya mereka terikat dalam suatu perkawinan atau dalam mencari pasangan selalu perempun. Kelompok ini adalah laki-laki. Jumlah mereka sedikit dan biasanya berpakaian lawan jenis pada saat tertentu saja, misalkan pada saat akan melakukan hubungan seksual. Jadi tampak bahwa pemakaian pakaian perempuan disini adalah untuk mendapatkan gairah seksual. Akan berbeda dengan para transeksual yang berpakaian perempuan karena merasa ada ketidaksesuaian antara fisik dengan jiwanya, karena mereka merasa ingin menjadi perempuan. Kelompok transvestis tetap suka dengan ciri-ciri kelaki-lakiannya, meskipun mereka memakai pakaian perempuan, terkadang mereka tetap memasang kumis dan tetap senang berhubungan seksual dengan perempuan.
3. Homo seksual yang menderita transvestisme
Kelompok ini merupakan kelompok yang dalam persoalan hubungan seksual lebih suka melakukannya dengan sesama jenisnya yakni laki-laki. Namun seperti yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai pengertian transvestisme, jelas sudah kelompok ini merupakan kelompok yang tidak memiliki permasalahan dalam batin mengenai lahiriah mereka namun dalam berhubungan seksual mereka senang menggunakan pakaian wanita.
4. Opportunities
Kelompok ini terdiri dari mereka yang memanfaatkan kesempatan, dimana mereka menjadi waria untuk sekedar mencari penghasilan atau nafkah. Jadi tidak terdapat kelainan psikologis maupun seksual seperti yang terjadi pada tiga kelompok yang telah dipaparkan sebelumnya.
C. Faktor-faktor penyebab menjadi waria
1. Terjebak dalam raga yang salah
Banyak waria yang akhirnya mengkambinghitamkan penepmpatan raga. Beberapa waria beralasan bahwa sebenarnya mereka adalah perempuan tetapi dilahirkan dalam bentuk tubuh laki-laki. Para waria pun kebanyakan mengaku bahwa naluri dalam dirinya murni (100 persen) perempuan.
2. Adanya mutasi gen
Secara medis, ada hormon yang menyebabkan pria berperilaku seperti wanita dan merasa lebih nyaman dengan tingkah seperti itu. Mutasi gen ini akan menyebabkan kelainan gen pada pria bersangkutan, misalnya model gen XXY, gen wanita (X) lebih dominan. Maka, pria tersebut akan mengalami kelainan yang mencolok pada bagian tubuhnya. Misalnya, tumbuh payudara seperti perempuan.
3. Tuntutan ekonomi
Tuntutan ekonomi boleh dikatakan sebagai alasan paling kuat dan paling konkret yang menyebabkan seseorang menjadi waria. Dalam kasus sperti ini, menjadi waria hanya bersifat kepura-puraan demi mendapatkan uang. Namun, kepura-puraan ini pun bisa menjerat waria ke dalam kebiasaan hingga akhirnya kebablasan.
4. Terpengaruh budaya barat
Di era globalisasi atau era pasar bebas ini, manusia rentan terpengaruh oleh budaya-budaya luar yang mayoritas tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Salah satunya adalah pilihan menjadi waria. Di beberapa negara, pernikahan sejenis memang sudah dilegalkan oleh negara, termasuk pilihan seseorang untuk menjadi waria.
Bahkan, negara-negara tersebut sering mengadakan kontes-kontes kecantikan yang pesertanya dari kalangan waria. Hal inilah yang turut ditiru oleh masyrakat Indonesia. Mereka mengadopsi budaya luar tanpa penyesuaian hingga akhirnya menimbulkan penyimpangan.
5. Trauma
Faktor traumatis memang bisa menjadi pemicu seorang pria memutuskan untuk menjadi waria. Boleh jadi, pria tersebut pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh sehingga ia merasa nyaman dengan keadaanya sebagai waria. Bisa pula karena ia sempat disakiti wanita sehingga memutuskan untuk menyukai sesama jenis dengan jalan mengubah tampilan menjadi waria.
6. Pengaruh lingkungan
Tidak dapat dipungkiri, lingkungan merupakan faktor pendukung terbesar yang menentukan masa depan seseorang. Termasuk menentukan waria atau tidaknya seorang pria. Pria yang sejak kecil bergaul dengan wanita, cenderung tumbuh menjadi sosok seperti wanita. Contoh lain, pria yang bekerja di salon cenderung memiliki sifat gemulai seperti wanita karena yang mereka layani setiap hari adalah wanita.
7. Dalam agama Islam, telah disebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat atau akhir zaman adalah banyaknya pria yang berperilaku dan berpenampilan layaknya wanita. Begitupun sebaliknya. Wanita berperilaku dan berpenampilan layaknya pria. Melihat kondisi saat ini, tampaknya hari kiamat semakin dekat seiring menjamurnya para waria.
Begitu banyak alasan seseorang memilih menjadi waria karena mutasi gen maupun profesi. Namun, alasan apapun tidaklah bisa dijadikan pembenaran karena agama Islam terang-terangan melarang seseorang menjadi waria. Apalagi jika pengingkaran kodrat itu disertai dengan opeasi ganti kelamin atau melakukan suntik silikon untuk menumbuhkan payudara.
D. Relasi waria dalam masyarakat
Masyarakat sendiri terdapat pihak-pihak yang pro dan kontra terhadap kehadiran waria dalam lingkungannya.
Ø Pihak yang mendukung kehadiran waria:
o Teman pergaulan
Teman pergaulan adalah pihak yang mendukung keberadaan waria. Karena keberadaan waria bagi teman pergaulan dapat menambah keberagaman teman.
o Teman profesi
Teman profesi adalah pihak yang mendukung keberadaan waria. Sesama teman profesi tentunya saling mendukung dan saling membantu. Karena mereka menganggap bahwa mereka senasib dan sepenanggungan.
Ø Pihak yang menolak kehadiran waria:
o Pemuka agama
Pemuka agama adalah pihak yang menolak keberadaan waria karena tidak sesuai dengan syari’at Islam. Di dalam ajaran agama Islam manusia hanya terdapat laki-laki dan perempuan.
o Pemerintah
Pemerintah adalah pihak yang menolak keberadaan waria karena di Indonesia tidak melegalkan transgender. Di Indonesia hanya mengakui penduduk laki-laki dan perempuan.
E. Penyebab menjadi waria jika dikaitkan dengan teori penyimpangan
Adapun, jika dipandang dari sudut pandang sosiologi, penyebab/faktor mengapa laki-laki dapat dikatakan waria, dapat diterapkan dalam Teori Perilaku Menyimpang, yaitu :
1. Teori Differential Association (pergaulan berbeda)
Teori ini diciptakan oleh Edwin H. Sutherland yang berpendapat bahwa penyimpangan  bersumber pada pergaulan berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya. hal ini cocok dengan salah satu alasan mengapa seorang laki-laki menjadi waria.
Contohnya, dari berita yang saya baca menyebutkan bahwa “Kondisi eksternal dari para pelaku penyimpangan cenderung memberikan kesempatam mereka untuk melakukan kegiatan tersebut. Hal ini terbukti dari Kisah Agus bermula saat dirinya bercita-cita membuka usaha tata rias pengantin. Pada 2010 lalu, Agus izin kepada orangtuanya untuk menimba ilmu dengan mengikuti kursus tata rias di Kota Solo. Sesampai di Solo, Agus dikenalkan dengan beberapa teman yang ahli di bidang tata rias. Namun karena pengaruh lingkungan,  Agus kemudian mengubah penampilan seperti wanita. Hingga label waria  pun disandangnya. Agus berdalih, pendapatan dari waria dapat digunakan untuk menambah modal usahanya. Profesi yang Agus jalani saat ini ternyata tidak diketahui keluarganya. Keluarga mengira bahwa Agus sedang belajar dan telah membuka usaa tata rias di Solo”
(www.solopos.com: Saat Agus Berubah Jadi Angel)
2. Teori Labeling
Teori ini disampaikan oleh Edwin M. Lemerd yang berpendapat bahwa seseorang yang telah melakukan penyimpangan pada tahap primer (pertama) lalu oleh masyarakat sudah diberi cap sebagai penyimpangan, maka orang tersebut terdorong untuk melakukan penyimpangan skunder (tahap lanjut) dengan alasan “kepalang tanggung”.
Contohnya, jika ada seorang laki-laki yang lewat di hadapan warga sekitar, dan laki-laki tersebut berusaha untuk tetap ramah dan sopan kepada warga sekitar dengan memberi ucapan “permisi” ketika lewat di hadapan warga sekitar tersebut. Kebanyakan dari warga sekitar tersebut banyak yang menggunjing dan memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan”BANCI” karena dilihat dari cara berjalannya, dan kebanyakan teman yang dia miliki adalah wanita. Lama-lama laki-laki tersebut terus diberi label/sebutan “BANCI” maka dalam pikirannya akan terbesit “daripada saya terus dipanggil banci, sekalian saja saya menjadi banci.”
3. Teori Fungsional
Teori ini dipelopori oleh Emile Durkhem adalah bahwa kesadaran moral dari semua masyarakat adalah faktor keturunan, perbedaan lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.
Contoh : Laki-laki yang ayahnya seorang waria, dan tinggal di lingkungan waria maka ia berpeluang besar untuk menjadi waria.
F. Waria dan Grand Theory Sociology
1. Teori Pertukaran Sosial
Ø Teori ini cenderung pada pertimbangan untung-rugi atas interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain, meskipun keuntungan yang didapatkan tidak maksimal. Bahkan seseorang akan menggunakan alternatif lain jika seandainya tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Sehingga terkadang manusia tidak bertindak secara rasional. Keuntungan yang didapatkan dapat berwujud material maupun non material.
2. Teori Interaksionisme Simbolik
Ø Saling menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya. Artiya menilai tindakan orang lain dengan asumsi masing-masing individu.
Dalam point ini, lebih menekankan bahwa manusia selalu menilai setiap kejadian di sekitarnya melalui asumsinya masing-masing. Saat ini manusia menganggap waria adalah hal yang buruk, waria adalah orang yang menyalahi adat istiadat dan agama. Oleh sebab itu waria tidak diakui keberadaannya.
Namun di sisi lain waria juga manusia biasa yang ingin dihargai. Para waria menganggap bahwa mereka dilahirkan pada raga yang salah. Jika mereka dilahirkan sebagai wanita pasti mereka tidak akan menjadi waria.
Source : http://edukasi.kompasiana.com/2014/01/04/relasi-waria-dalam-masyarakat-625140.html
 

Komunitas Waria Dukung Jokowi Jadi Presiden

 
Jakarta - Komunitas waria pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendeklarasikan dukungannya bersama kaum marjinal lainnya. Mereka ingin Jokowi memperhatikan nasib mereka jika kelak terpilih.

"Kita harapkan jika Jokowi terpilih untuk memperhatikan kaum marjinal seperti kita," kata Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Mami Yulie, di lokasi deklarasi di Jl Prapanca Raya no 28, Jakarta Selatan, Sabtu (21/6/2014).

"Ya pemenuhan hak dasar seperti bekerja, mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan. Selain itu juga pengen ada perlindungan hukum yang jelas," sambungnya.

Yulie menyatakan dukungan ke Jokowi karena dia menilai Gubernur DKI non aktif itu sederhana dan merakyat. Dia berharap jika terpilih Jokowi untuk tetap seperti itu dan memperhatikan mereka.

Selain kelompok waria, deklarasi itu juga diikuti kelompok orang-orang dengan ukuran tubuh mini dan juga orang-orang buta. Mereka tergabung dalam kelompok Rakyat Merah Putih (RMP).

"Ada 3 deklarasi, kami berharap Jokowi memperhatikan nasib orang-orang terpinggirkan jika nanti terpilih," tandasnya.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

'Sang Juara' itu adalah Waria


Siapa bilang waria cuma bisa jadi 'banci kaleng' yang kerjaannya cuma ngamen buat selembar Goceng? Atau menjadi pemuas nafsu laki-laki yang ingin terpuaskan syahwatnya dengan biaya murah?

Jika ditilik, tak sedikit juga waria yang berprestasi. Sebut saja Mama Yuli yang meski sudah 'tuwir' tetap saja tak lelah memperjuangkan hak-hak kaum waria, meski selalu gagal dalam seleksi anggota Komnas HAM. Atau Maryati, waria muslimah yang menggagas pesantren Waria di Yogyakarta. Dalam kondisi termarjinalkan, mereka tetap eksis memperjuangkan hak-hak waria yang selama ini terabaikan oleh sang pemangku kebijakan.

Ada juga waria-waria yang berprestasi di dunianya masing-masing. Sebut saja Cheny Han yang eksis di dunia desainer, Bunda Dorce yang sukses di panggung hiburan, atau bahkan waria yang jadi dokter di Jombang, Jawa Timur. Ada lagi, Merlyn, si waria cantik yang pernah menjadi ratu waria se-Republik Indonesia tercinta.

Selain itu, kisah-kisah waria yang penuh haru biru juga menarik untuk diceritakan, seperti kisah waria yang berangkat naik haji. Bagaimana dia mendapatkan diskriminasi saat berada di tanah suci, pakai mukena atau sarung?

Dan tak dapat dipungkiri, banyak waria yang masih menggantungkan hidupnya dengan menjual diri di rel-rel kereta api. Kisah-waria menjual 'jasa' lendir ini juga menarik untuk disimak.

Minggu (4/11) hari ini, merdeka.com menghadirkan ulasan berita tematik soal waria-waria yang berprestasi. Selamat menikmati.
source: http://www.merdeka.com

Waria dan Media

Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata waria?
Mungkin sebagai berpadangan negatif, tetapi ada pula yang positif.  Terlepas dari perdebatan tak berarti tersebut. tulisan ini hanya memberikan sekelumit pengetahuan dari sisi media dan kultur budaya secara sekilas. semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Waria atau wanita bertubuh pria seperti kita kenal dan kita tertawakan di media merupakan hasil konstruksi media terhadap realitas sosial yang hidup dalam golongan masyarakat. Namun yang menarik disini adalah waria dikemas sedemikian mungkin untuk menjadi komoditi yang bernilai bagi perusahaan media tersebut. seperti program-program televisi yang banyak menampilkan waria sebagai sosok yang boleh diperlakukan apa saja. Sebelum lebih tenggelam masuk ke dalam dunia media, terlebih dahulu saya memperkenalkan waria dari kaca mata saya. Menurut saya waria memiliki kasta, tidak hanya kehidupan biasa yang kita alami, waria pun memiliki kelas-kelas yang membentuk penampilan mereka.
  • Pertama adalah kelas ekonomi, kelas ini adalah pria normal dalam kehidupan sehari-hari dan berubah menjadi waria demi mencari penghasilan. Peralatan make-up yang digunakan murah, rambut palsu yang berantakan, baju wanita seadanya, dan perlengkapan musik seadanya seperti icik-icik (tutup botol yang digepengkan dan disatukan), dan gitar betot (senar orisinil dari karet ban motor).  Pada kelas ini waria yang cenderung kasar, karna pada dasarnya mereka tidak kemayu.
  • Kedua adalah kelas bisnis, kelas ini adalah pria yang merubah bentuknya seperti wanita. Mereka menyuntikan silikon ke payudara, hidung, dan gadu. Peralatan make-up yang digunakan relatif menengah, rambut mulai halus, baju cenderung seksi, dan biasanya ada citra buruk terkait dengan prostitusi demi mencari pengahasilan.
  • Ketiga adalah kelas eksekutif, pria ini adalah bria yang sangat mendalami keadaanya. Ada beberapa yang merubah bentuknya, ada pula yang tidak. Namun strata itu bisa terlihat dari make-up yang digunakan mahal, rambut palsu yang muali berwarna dan berganti-ganti kapanpun mereka suka, biasanya memiliki kumpulan sosialita, dan ada kecenderungan untuk menampilkan kekayaan yang mereka punyai.
catsDari ketiga kelas diatas merupakan rangkaian pengamatan dari penulis selama melihat waria dari media, melihat waria di sekitar, dan melihat waria pada komunitas.  Media hiburan yang mengekplotitasi waria dan menjadikan mereka bahan dagangnya sesungguhnya sudah menuai kritik dari berbagai kalangan pengamat sosial. Disatu sisi kaum minoritas tersebut ingin bergabung dengan masyarakat biasa tetapi tertahan dengan pandangan sebelah mata masyarakat. di sisi lain kamu minoritas tersebut ada beberapa menjadi icon-icon yang tentu saja menjadi pemasukan bagai mereka. Sadar atau tidak waria itu menjadi korban dari kapitalisme.  Media pula yang membentuk pemahaman masyarakat akan seorang waria. Bawa waria adalah manusia yang bisa dianiaya, di tertawakan, di bully, dan terserah.
catsPada level waria kelas ekonomi, hal tersebut akan menjadi pekerjaan yang berat bagi mereka. mereka menjadi waria hanya untuk mencari uang. Pendidikan yang tidak memadai dan perhatian pemerintah masih menjadi masalah klasik yang terus beranak cucu. Sedangakan waria kelas bisnis dan eksekutif relatif tidak mempermasalahkan padangan masyarakat terhadap diri mereka. karena kebiasaan, pendalaman, dan pekerjaan mereka pula, mereka meranggapan bahwa itu popularitas.
Kalau kita bandinngan media kita dengan media luar tentu sangat berbeda. Dibandingkan thailand yang memiliki jumlah waria terbanyak di Asia, media mereka sama sekali tidak menampilkan waria sebagai bahan tertawaan. Tetapai sebagai bintak iklan seperti “iklan pons ”. pemerintah Thailan berfikir bahwa waria merupakan aset yang dilindungi jadi harus dijaga citranya.  Mereka mempunyai teater kusus untuk menampilkan adekan-adekan bully, meremehkan, konyol dan lain-lain. Untuk masuk ke dalam teater tersebut harus membayar dengan harga yang lumayan. Media thailand lebih menekankan waria sebagai bintang produk kecantikan ketimbang program bully yang kita lihat di televisi.
Hiruk pikuk media dan waria di Indonesia tentu mempunyai alasan tertentu mengapa waria seperti itu. Jawabnya teman-teman adalah kepentingan ekonomi politik media.  lagi lagi kita dikalahkan dengan sesuatu yang bernama ekonomi politk media. semoga tulisan ini bermanfaat bagai teman-teman dan menjadi jalan masuk bagi yang ingin menulis tugas akhir atau mendiskusikannya dengan teman segalau.


Mengenai Terapi-terapi Homoseksual dan Ex-Gay

Saat ini, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai gangguan mental yang perlu ditangani untuk disembuhkan. Walau begitu, variasi orientasi seksual selain heteroseksual, pernah dianggap sebagai bentuk penyimpangan seksual. Berbagai macam terapi dilakukan guna "menyembuhkan" penderitanya. Beberapa terapi yang pernah dipakai oleh terapis untuk menangani pasien yang bermasalah dengan orientasi seksualnya adalah terapi aversi, terapi konversi, psikoterapi afirmatif gay, dll.


TERAPI AVERSI



Terapi ini menggunakan salah satu metode behavioral, di mana terapi ini mengurangi perilaku/respons yang tidak diinginkan dengan cara memasangkan stimulus menyenangkan dengan stimulus yang dibenci. Salah satu penerapannya, awalnya elektroda (semacam pengejut listrik) dipasangkan pada kemaluan pasien, kemudian pasien dipertontonkan film porno gay. Ketika pasien terangsang, elektroda akan mengalirkan listrik dan memberikan efek shock kepada pasien. Setelah itu, pasien dipertontonkan film porno heteroseksual, dan kejutan listrik tidak diberikan. Bentuk lainnya adalah, film porno gay dipasangkan dengan ipecac (sirup obat yang bikin mual dan muntah). Sejak 2006, terapi ini dinyatakan sebagai pelecehan terhadap kode konduksi dan panduan profesional APA dan American Psychiatry Association. Gangguan jiwa dan bunuh diri kemudian dinyatakan sebagai salah satu akibat dari terapi aversi.


TERAPI KONVERSI



Tokoh-tokoh dalam terapi ini: Sigmund Freud, Isidor Sadger, Felix Boehm, Sandor Ferenczi, Anna Freud, Melanie Klein, dll. Sigmund Freud menyatakan bahwa kesuksesan dalam terapi psikoanalitisnya hanya sebatas memunculkan kecenderungan heteroseksual, dan bukan menghilangkan perasaan homoseksual. Kebanyakan pasien ingin menjadi heteroseksual dilandasi oleh alasan-alasan yang kurang tepat, termasuk ketakutan akan penolakan lingkungannya.

Pada tahun 1935, seorang ibu menulis surat pada Freud dan meminta Freud menangani anaknya yang adalah seorang gay. Freud kemudian membalas surat itu (surat ini kemudian menjadi terkenal):

"Saya telah menerima surat Anda tentang putra gay Anda...itu bukanlah hal yang harus dianggap memalukan, buruk, atau rendahan; homoseksual tidak bisa digolongkan sebagai gangguan jiwa; kami menganggapnya sebagai variasi dari fungsi seksual, yang muncul karena perbedaan khusus pada perkembangan seksualnya. Dengan meminta saya untuk menolong anak Anda, sepertinya Anda berpikir saya bisa menghilangkan homoseksualitas dan menggantikannya menjadi heteroseksualitas yang normal. Dan jawabannya secara umum kami tidak bisa menjanjikan itu. Dalam sejumlah kasus tertentu, kami berhasil menumbuhkan benih-benih tendensi heteroseksual, yang sebenarnya ada di dalam setiap homoseksual; tapi dalam kebanyakan kasus hal ini tidak dimungkinkan. Ini berhubungan dengan kualitas dan umur individu tersebut. Hasil penanganannya pun tidak bisa diprediksi." (Freud 1992, pp. 423–424).

Jenis teknik dalam terapi konversi adalah modifikasi perilaku, terapi ex-gay, psikoanalisis, terapi reparatif, dan terapi seks.

Pada tahun 2001, Robert Spitzer melakukan sebuah studi mengenai terapi konversi dan terapi ex-gay. Studi ini sering dikutip untuk mendukung "penyembuhan" homoseksual. Studi ini menunjukkan 66% pria dan 44% wanita berhasil "sembuh" dari homoseksualitasnya. Namun studi ini dinyatakan bias, karena kebanyakan sampelnya merupakan orang yang religius, pelayan di gereja. Selain itu, Spitzer tidak mengukur apakah partisipannya berbohong atau denial setelah terapi selesai. Beberapa tahun kemudian, pada 2012, Spitzer menyatakan permohonan maafnya kepada komunitas gay atas kesimpulan salah dari studinya itu dan meminta organisasi-organisasi terapi ex-gay berhenti mengutip studinya sebagai bukti terapi konversi.

Terapi konversi dinyatakan berbahaya bagi pasien homoseksual.


TERAPI PELUKAN



Terapi ini dijalankan oleh Richard A. Cohen. Dia sendiri "dulunya" adalah seorang gay. Menurutnya, beberapa pria gay tidak mendapatkan kasih yang cukup dari ayahnya, karena itu teknik yang dia gunakan adalah dengan memeluk pasien gay-nya dengan maksud memberikannya afeksi.


PENGUATAN GENDER



Tekniknya adalah dengan memaksa pria gay untuk melakukan kegiatan-kegiatan maskulin seperti olahraga dan kuli bangunan, dan wanita lesbian melakukan kegiatan feminin seperti make-up dan menggendong bayi. Terapi ini terlalu meng-stereotype gender antara laki-laki dan perempuan.


EQUINE-ASSISTED PSYCHOTHERAPY (TERAPI KUDA)



Beberapa orang yakin bahwa berinteraksi dengan kuda dapat menyembuhkan mental orang. Raymond Bell mengklaim bahwa terapi ini juga dapat digunakan untuk menyembuhkan homoseksualitas.


PRIMAL THERAPY



Dipopulerkan oleh Arthur Janov. Teorinya, masalah-masalah psikologis disebabkan oleh trauma masa kecil, contohnya seperti ketika dalam proses kelahiran. Cara mengatasi insiden traumatis ini adalah dengan merekonstruksi/menciptakan ulang kejadian trauma tersebut, dan kemudian klien melepaskan semua emosi-emosi terpendamnya dengan cara berteriak. Arthur mengklaim bahwa pasien homoseksual yang mengikuti terapi ini melaporkan tidak mengalami perasaan dan fantasi homoseksual lagi, karena itu homoseksual tidaklah disebabkan oleh faktor genetik. John Lennon dan Steve Jobs merupakan pengikut gerakan terapi ini (terapi ini tidak hanya untuk homoseksual, sebenarnya). Sayangnya, teori ini tidak didukung studi empiris.


PSIKOTERAPI AFIRMATIF GAY



Panduan dan materi untuk psikoterapi ini disusun oleh APA. Psikoterapi afirmatif gay adalah bentuk psikoterapi bagi gay dan lesbian untuk menguatkan mereka dan agar mereka dapat menerima orientasi seksualnya dan tidak berusaha mengubahnya menjadi heteroseksual atau menghilangkan ketertarikan sesama jenisnya. Landasan psikoterapi ini adalah pernyataan bahwa "homoseksualitas atau biseksualitas bukanlah sebuah penyakit jiwa". Pada saat ini, jenis terapi ini merupakan terapi yang paling diterima, sementara terapi lain yang bermaksud mengubah gay menjadi heteroseksual dipandang tidak sehat dan dapat merusak.


FAKTA MENARIK TENTANG TOKOH-TOKOH "EX-GAY"

Ada beberapa fakta menarik mengenai tokoh-tokoh yang pernah terlibat dengan organisasi "ex-gay" atau setidaknya mendukung terapi penyembuhan gay. Beberapa di antara mereka nyatanya kembali melakukan perilaku homoseksual, dan yang lainnya menjadi penyuara hak-hak LGBT. Di antaranya:

  • Christopher Austin. Seorang terapis ex-gay dan pendiri Renew Ministries. Dia didapati menyerang klien-klien gay-nya secara seksual dan dipenjara 10 tahun karenanya.
  • Michael Bussee. Merupakan co-founder dari Exodus International, salah satu organisasi "ex-gay" terbesar di dunia. Dalam perjalanan di organisasi tersebut, dia akhirnya sadar bahwa dia tetap saja tidak berubah menjadi hetero, dan kemudian malah jatuh cinta dengan sesama co-founder lainnya, Gary Cooper. Mereka kemudian keluar dari organisasi itu, menceraikan istrinya, dan menikah bersama.
  • Richard Cohen. Penemu "terapi pelukan". Dia berlibur ke New York dan didapati menyelingkuhi istrinya dengan pria lain.
  • Pada 1973, John Evans ikut mendirikan "Love in Action", persekutuan "ex-gay" pertama di San Fransisco. Evans berusaha menolong sahabatnya, Jack McIntyre untuk berubah menjadi hetero. Namun kecewa karena tidak kunjung "sembuh", Jack malah bunuh diri. Sejak itu Evans keluar dari organisasi ini, dan membantu korban-korbannya untuk menerima diri mereka sendiri.
  • Colin Cook, seorang minister Seventh Day Adventist, juga pendiri organisasi Homosexuals Anonymous (HA). Dia pernah menjadi ikon pergerakan ex-gay. Karirnya hancur sejak dia kedapatan memberikan pijat plus-plus ke kliennya, dengan bertelanjang. Cook pindah ke Colorado mendemonstrasikan kampanye anti-gay pada tahun 1992, namun pada tahun 1995 sekali lagi dia dilaporkan oleh kliennya sendiri karena melakukan sex-phone, pelukan-pelukan yang tidak pantas, dan perilaku-perilaku yang tidak etis.
  • Phil Hobizal, direktur besar dari Portland Fellowship, diturunkan dari jabatannya dengan alasan "keterlibatan emosional" dengan pria lain.
  • Peter Toscano, setelah 15 tahun terlibat dalam persekutuan ex-gay, mendirikan website "Beyond Ex-Gay" (Di Balik Ex-Gay). Bersama aktivis GLBT SoulForce, dia menyelenggarakan Konferensi Ex-Gay Survivors di California. Acara ini menghadirkan lebih dari seratus korban dari organisasi ex-gay dan membahas tentang bahaya dan kerugian yang ditimbulkan organisasi-organisasi tersebut.
  • Mary Griffith. Awalnya merupakan seorang ibu konservatif pengikut Presbyterian Church. Ketika mengetahui anaknya, Bobby Griffith, seorang gay, dia berusaha mati-matian menyuruh anaknya untuk bertobat, membawanya ke psikiater, dll. Bobby yang tidak tahan kemudian pergi dari rumah bersama sepupunya. Mary tetap tidak menerima ke-gay-an Bobby, dan Bobby juga memiliki masalah lain yaitu dia diselingkuhi oleh pacar lelakinya. Bobby akhirnya bunuh diri. Setelah kematian putranya, Mary mempertanyakan kembali keyakinannya dan interpretasi akan ayat Alkitab, dan kemudian bergabung bersama PFLAG (Parents, Families, and Friends of Lesbians And Gays) mengadvokasikan hak-hak kaum LGBT. Kisahnya kemudian difilmkan dalam film Prayers For Bobby.


SUMBER: